Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Translate

Selasa, 18 Februari 2014

Rahasia Ayah

Posted by Unknown On 08.22 No comments
RAHASIA AYAH
(Noval Fariz Mutaqien)

Namaku adalah noval, Aku hidup sendiri dari sejak kecil karena ibuku meninggal dunia pada saat Aku duduk dibangku SD. Ayahku sendiri dulunya adalah seorang mafia atau orang yang jahat. Namun, kemudian kini dia bebas dari tahanan dan berhenti menjadi orang jahat. Sejak ayahku bebas, yah… sekitar lima tahun yang lalu aku tidak pernah bicara lagi dengannya dia menjadi orang yang sangat pendiam dan menajadi anti sosial. Tapi, bagiku itu sih bukan masalah yang terpenting dia sekarang bukan seorang penjahat lagi.
Aku sangat membenci ayahku dan awalnya aku berharap dia tidak dibebaskan karena perbuatannya yang kejam, aku juga yakin dia tidak pernah menyayangiku bahkan mungkin tidak mengakuiku sebagai anaknya walaupun yasudahlah aku pun tidak peduli padanya. Semenjak dia bebas dia menjadi misterius karena dia selalu mengunci diri di Kamarnya dan keluar sebutuhnya saja, seperti bicara denganku hanya sebutuhnya saja memang sangat menyebalkan.
“Ayah, boleh gak aku minta uang aku mau main sama sahabat aku.?” tanyaku ketika dia sedang duduk santai ditaman sambil minum kopi.
“Ambilah, terserah berapapun yang kau mau.” jawab ayahku dengan suara yang dingin.
“Yasudahlah makasih yah.” kataku dengan senyuman manis.
“Hmm…..” jawabnya lagi dengan singkat dan wajah tak peduli.
Itulah yang paling tidak aku sukai darinya, gayanya yang cuek dan cara bicaranya yang dingin tidak seperti bicara pada anaknya, ahh… sudahlah memang seperti itulah dia. Akhirnya sahabatku datang menjemputku, dan aku pergi tanpa pamit pada ayahku. Aku pergi bersama edgar, adit dan radya mereka semua adalah sahabatku. Di tempat tujuan kita banyak berbincang dan mencurahkan isi hati termasuk membicarakan  tentang ayahku.
“Eh val, gimana hubungan kamu sama ayah kamu.?” Tanya radya.
“Yah… biasa ajah kayak dulu masih cuek dan kita masih jarang bicara serius lagi. Padahal, aku pengennya ayah kayak dulu lagi masih inget waktu dia beliin aku sepeda dan ngajarin aku ngendarain sepeda, Aku terus jatuh dan terus jatuh sampai aku nyerah. Tapi kata ayahku bahwa ayahku ingin aku jadi manusia yang berarti tidak mudah menyerah dan terus bangkit hingga aku bisa menyeimbangkan hidupku layaknya seimbang dalam mengendarai sepedaku,” jawabku dengan sedih. “Aku tahu dibalik hatinya yang jahat dia masih menyimpan sisi baiknya.”
“Sabar val, kamu masih bisa kok mendapatkan ayah kamu yang dulu,” jawab adit sambil memberi semangat. “Aku tahu mungkin sekarang kamu benci sama ayah kamu tapi aku tahu masih ada besar hati kamu membukanya kembali untuk ayah kamu, aku juga yakin ayah kamu masih sayang kamu.”
“Ah…. Mana mungkin dia cuek banget, mungkin dia gak anggap aku anaknya.” Jawabku sambil menggertak sahabat-sahabatku.
“Mungkin ayah kamu sedang menyimpan sesuatu yang tidak kamu ketahui,” kata edgar. “Gak ada val orang tua yang ingin melihat anaknya sengsara. Jujur aku juga gak terlalu dekat sama ayah aku tapi aku tau dia sayang sama aku karena, aku berfikir jika ayahku tidak menyayangiku mungkin dia tidak akan banting tulang untuk memberi nafkah keluargaku termasuk aku.”
Semua kata-kata sahabatku memberi motivasi dan membuat aku berani untuk berbicara kembali dengan ayahku. Acara hari ini bersama sahabatku selesai, akhirnya aku pulang kembali ke rumah dan aku melihat ayahku sedang menonton TV, aku sangat ingin berbicara denganya tapi aku ragu untuk menyatakan bahwa aku menyayanginya. Setalah lama kupertimbangkan akhirnya aku berani untuk  menyatakannya.
“Ayah… tunggu aku dulu, aku mau bicara sebentar.” Kata aku.
“Iyah, ada apa?”
“Ayah sebenernya aku mau jujur kalau aku sebenernya anu…. Hmm.. Ayah! Aku saying ayah,” akhirnya aku berani untuk mengatakannya walaupun aku sedikit ragu.

“Ha ha ha…,” sangat mengherankan tiba-tiba ayahku tertawa. “ha ha ha…. Dasar kau lucu, kau mengatakan bahwa kau menyayangiku sedangkan aku sama sekali tak menyayangimu. Dengarkan sekarang jadilah dirimu, aku tak akan menjadi ayahmu yang dulu lagi. Jadi sekarang jalanilah hidupmu dan anggalah aku tak pernah ada di dunia ini, sudahlah aku mau pergi!” 
Kalimat yang dikeluarkan ayaku sangat menyakiti hatiku, aku pun merasa bahwa memang benar perkiraanku bahwa ayahku tidak pernah menyayangiku. Aku merasa sangat tersakiti hingga aku menangis kemudian, aku berkemas dan berniat untuk pergi dari rumah dan meninggalkan ayahku untuk selamanya.
Tujuanku adalah pergi ke rumah adit untuk menumanpang tidur beberapa hari dan kebetulan adit tidak merasa keberatan jika aku menginap dirumahnya. Ketika aku datang kerumahnya aku disambut senyuman manis oleh orang tuanya. “mah, pah. Kenalin ini noval yang pernah aku ceritain itu, yaudah yah aku mau ke kamar. ” Kata adit. Setelah di kamar sebenarnya aku ingin menceritakannya pada adit tapi dia ada keperluan sehingga dia tidak bisa menemaniku. Tiba-tiba seseorang datang ke kamar, tenyata orang itu adalah ayahnya adit.
“boleh aku masuk?” kata ayah adit. “noval, sebenarnya kisah tentang keluagamu menarik saya mendengarnya dari adit.” Kemudian aku menjawab. ”yah, berarti adit orang yang beruntung karena bisa berbincang banyak sama ayahnya.”
“dengarkan saya noval, semua orangtua termasuk ayah ingin anaknya bisa melampaui dia. Karena tidak ada di dunia ini seorang ayah yang ingin melihat anaknya susah tak terkecuali ayahmu ada sesuatu yang disimpan olehnya, cari tahu isi hatinya yang sebenarnya. Percayalah noval aku tau karena aku seorang ayah juga.” Kata ayah adit.
Kata-kata ayah adit membatku sadar sehingga aku bergegas untuk pulang dan menemui ayahku. Aku yakin dia sedang di kamar dan pertama kalinya aku membobol kamar ayahku dan saatku lihat terdapat foto-foto kenangan dulu yang ditemel tembok. Aku sangat terkejut dan sangat heran kemudian aku menemukan sebuah surat yang berisi.


“jujur sebenarnya ayah sangat menyayangimu, dalam tahanan ayah selalau memikirkanmu karena ayah takut kau sendiri diluar sana. Ayah fikir kau tak perlu tau karena menurut ayah tak pantas orang sejahat ayah mendapat rasa sayang. Ayah hanya ingin kau jadi dirimu, lupakan kenangan burukmu pandanglah masa depan yang akan kau jalani  Teruslah bangkit dan seimbangkan hidupmu seperti kamu mengendarai sepeda. Salam ayah.”

Setelah hari itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan ayahku, aku sangat merindukannya. Tapi yang terpenting aku tahu bahwa sejahat-jahatnya ayah takan pernah mencoba melukai anakanya selalu ada arti dibalik semua itu dan seorang ayah rela mengorbankan segalanya agar bisa membuat sang anak bisa lebih baik darinya. Ayah pesanku adalah dimanapun kauu berada aku akan selalu menyayangimu dan mendukungmu.

0 komentar:

Posting Komentar

Site search

    My Social Media

    Facebook: Noval Fariz Mutaqien Twitter : @novusmutaqien

    About

    Blog ini campuran semua ada disini