RAHASIA AYAH
(Noval Fariz Mutaqien)
Namaku
adalah noval, Aku hidup sendiri dari sejak kecil karena ibuku meninggal dunia
pada saat Aku duduk dibangku SD. Ayahku sendiri dulunya adalah seorang mafia
atau orang yang jahat. Namun, kemudian kini dia bebas dari tahanan dan berhenti
menjadi orang jahat. Sejak ayahku bebas, yah… sekitar lima tahun yang lalu aku
tidak pernah bicara lagi dengannya dia menjadi orang yang sangat pendiam dan
menajadi anti sosial. Tapi, bagiku itu sih bukan masalah yang terpenting dia
sekarang bukan seorang penjahat lagi.
Aku
sangat membenci ayahku dan awalnya aku berharap dia tidak dibebaskan karena
perbuatannya yang kejam, aku juga yakin dia tidak pernah menyayangiku bahkan
mungkin tidak mengakuiku sebagai anaknya walaupun yasudahlah aku pun tidak
peduli padanya. Semenjak dia bebas dia menjadi misterius karena dia selalu
mengunci diri di Kamarnya dan keluar sebutuhnya saja, seperti bicara denganku
hanya sebutuhnya saja memang sangat menyebalkan.
“Ayah,
boleh gak aku minta uang aku mau main sama sahabat aku.?” tanyaku ketika dia
sedang duduk santai ditaman sambil minum kopi.
“Ambilah,
terserah berapapun yang kau mau.” jawab ayahku dengan suara yang dingin.
“Yasudahlah
makasih yah.” kataku dengan senyuman manis.
“Hmm…..”
jawabnya lagi dengan singkat dan wajah tak peduli.
Itulah
yang paling tidak aku sukai darinya, gayanya yang cuek dan cara bicaranya yang
dingin tidak seperti bicara pada anaknya, ahh… sudahlah memang seperti itulah
dia. Akhirnya sahabatku datang menjemputku, dan aku pergi tanpa pamit pada
ayahku. Aku pergi bersama edgar, adit dan radya mereka semua adalah sahabatku.
Di tempat tujuan kita banyak berbincang dan mencurahkan isi hati termasuk
membicarakan tentang ayahku.
“Eh
val, gimana hubungan kamu sama ayah kamu.?” Tanya radya.
“Yah…
biasa ajah kayak dulu masih cuek dan kita masih jarang bicara serius lagi.
Padahal, aku pengennya ayah kayak dulu lagi masih inget waktu dia beliin aku
sepeda dan ngajarin aku ngendarain sepeda, Aku terus jatuh dan terus jatuh
sampai aku nyerah. Tapi kata ayahku bahwa ayahku ingin aku jadi manusia yang
berarti tidak mudah menyerah dan terus bangkit hingga aku bisa menyeimbangkan
hidupku layaknya seimbang dalam mengendarai sepedaku,” jawabku dengan sedih.
“Aku tahu dibalik hatinya yang jahat dia masih menyimpan sisi baiknya.”
“Sabar
val, kamu masih bisa kok mendapatkan ayah kamu yang dulu,” jawab adit sambil
memberi semangat. “Aku tahu mungkin sekarang kamu benci sama ayah kamu tapi aku
tahu masih ada besar hati kamu membukanya kembali untuk ayah kamu, aku juga
yakin ayah kamu masih sayang kamu.”
“Ah….
Mana mungkin dia cuek banget, mungkin dia gak anggap aku anaknya.” Jawabku
sambil menggertak sahabat-sahabatku.
“Mungkin
ayah kamu sedang menyimpan sesuatu yang tidak kamu ketahui,” kata edgar. “Gak
ada val orang tua yang ingin melihat anaknya sengsara. Jujur aku juga gak
terlalu dekat sama ayah aku tapi aku tau dia sayang sama aku karena, aku
berfikir jika ayahku tidak menyayangiku mungkin dia tidak akan banting tulang
untuk memberi nafkah keluargaku termasuk aku.”
Semua
kata-kata sahabatku memberi motivasi dan membuat aku berani untuk berbicara
kembali dengan ayahku. Acara hari ini bersama sahabatku selesai, akhirnya aku
pulang kembali ke rumah dan aku melihat ayahku sedang menonton TV, aku sangat
ingin berbicara denganya tapi aku ragu untuk menyatakan bahwa aku
menyayanginya. Setalah lama kupertimbangkan akhirnya aku berani untuk menyatakannya.
“Ayah…
tunggu aku dulu, aku mau bicara sebentar.” Kata aku.
“Iyah,
ada apa?”
“Ayah
sebenernya aku mau jujur kalau aku sebenernya anu…. Hmm.. Ayah! Aku saying ayah,”
akhirnya aku berani untuk mengatakannya walaupun aku sedikit ragu.
“Ha
ha ha…,” sangat mengherankan tiba-tiba ayahku tertawa. “ha ha ha…. Dasar kau
lucu, kau mengatakan bahwa kau menyayangiku sedangkan aku sama sekali tak
menyayangimu. Dengarkan sekarang jadilah dirimu, aku tak akan menjadi ayahmu
yang dulu lagi. Jadi sekarang jalanilah hidupmu dan anggalah aku tak pernah ada
di dunia ini, sudahlah aku mau pergi!”
Kalimat
yang dikeluarkan ayaku sangat menyakiti hatiku, aku pun merasa bahwa memang
benar perkiraanku bahwa ayahku tidak pernah menyayangiku. Aku merasa sangat
tersakiti hingga aku menangis kemudian, aku berkemas dan berniat untuk pergi
dari rumah dan meninggalkan ayahku untuk selamanya.
Tujuanku
adalah pergi ke rumah adit untuk menumanpang tidur beberapa hari dan kebetulan
adit tidak merasa keberatan jika aku menginap dirumahnya. Ketika aku datang
kerumahnya aku disambut senyuman manis oleh orang tuanya. “mah, pah. Kenalin
ini noval yang pernah aku ceritain itu, yaudah yah aku mau ke kamar. ” Kata
adit. Setelah di kamar sebenarnya aku ingin menceritakannya pada adit tapi dia
ada keperluan sehingga dia tidak bisa menemaniku. Tiba-tiba seseorang datang ke
kamar, tenyata orang itu adalah ayahnya adit.
“boleh
aku masuk?” kata ayah adit. “noval, sebenarnya kisah tentang keluagamu menarik
saya mendengarnya dari adit.” Kemudian aku menjawab. ”yah, berarti adit orang
yang beruntung karena bisa berbincang banyak sama ayahnya.”
“dengarkan
saya noval, semua orangtua termasuk ayah ingin anaknya bisa melampaui dia.
Karena tidak ada di dunia ini seorang ayah yang ingin melihat anaknya susah tak
terkecuali ayahmu ada sesuatu yang disimpan olehnya, cari tahu isi hatinya yang
sebenarnya. Percayalah noval aku tau karena aku seorang ayah juga.” Kata ayah
adit.
Kata-kata
ayah adit membatku sadar sehingga aku bergegas untuk pulang dan menemui ayahku.
Aku yakin dia sedang di kamar dan pertama kalinya aku membobol kamar ayahku dan
saatku lihat terdapat foto-foto kenangan dulu yang ditemel tembok. Aku sangat
terkejut dan sangat heran kemudian aku menemukan sebuah surat yang berisi.
“jujur
sebenarnya ayah sangat menyayangimu, dalam tahanan ayah selalau memikirkanmu
karena ayah takut kau sendiri diluar sana. Ayah fikir kau tak perlu tau karena
menurut ayah tak pantas orang sejahat ayah mendapat rasa sayang. Ayah hanya
ingin kau jadi dirimu, lupakan kenangan burukmu pandanglah masa depan yang akan
kau jalani Teruslah bangkit dan
seimbangkan hidupmu seperti kamu mengendarai sepeda. Salam ayah.”
Setelah
hari itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan ayahku, aku sangat merindukannya.
Tapi yang terpenting aku tahu bahwa sejahat-jahatnya ayah takan pernah mencoba melukai
anakanya selalu ada arti dibalik semua itu dan seorang ayah rela mengorbankan
segalanya agar bisa membuat sang anak bisa lebih baik darinya. Ayah pesanku
adalah dimanapun kauu berada aku akan selalu menyayangimu dan mendukungmu.
0 komentar:
Posting Komentar